Tidak terasa sudah 10 tahun lamanya, satu dekade, tidak bersua dengan bait dan abjad. Aku terlalu lama membenamkan diri dalam lautan visual.
Aku cukup tergelitik ketika melihat hasil tulisanku lebih dari satu dekade lalu; penuh dengan typing yang error, terlalu berhati-hati hingga sangat singkat, lugu, dan nostalgic!
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Di usia 10, aku sudah berkenalan dengan internet, mendapatkan teman dari dunia maya, melihat dunia baru yang saat itu tidak bisa kutemui di dunia nyata.
Di sepuluh tahun ini pula, banyak hal buruk dan baik, berdatangan silih berganti: menapaki dunia baru, mendapat perspektif berbeda dari banyak manusia yang kutemui, kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup, melewati fase-fase depresi, sampai akhirnya belajar menerima dan merelakan.
Dulu, sebelum memutuskan untuk masuk di FSRD ITB, aku sempat membuat rencana jangka panjang, skenario jikalau aku masuk Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS) alih-alih jurusan impianku, DKV. Aku menuliskan apa saja yang ingin aku lakukan dan berharap kucapai 10 tahun mendatang.
Saat itu, kutulis paragraf panjang dengan berbagai poin-poin deskriptif. Hal itu kulakukan karena STIS bukan tujuan yang hatiku ingini. Agar tujuanku tetap ada, agar impianku tidak hilang, dan agar aku tetap bisa menghidupi kehidupan yang kuingin, aku menulisnya, panjang, di Facebook pribadiku yang sampai sekarang sudah hampir 4 tahun tidak kubuka.
Lalu, tulisan itu kuhapus, begitu saja.
Salah satu yang paling kuingat dari deretan impian itu adalah: "Aku akan menabung, mengumpulkan uang dari ikatan dinas untuk membeli CINTIQ display tablet.Usai menyelesaikan ikatan dinasku, aku ingin menjalani hidup sesuai dengan mimpiku: menjadi seorang animator dan ilustrator."
Bagaimana kalau justru tidak tercapai?
Apa benar jalan ini yang ingin kutempuh?
Dalam hati kecilku, aku masih sangat ingin masuk FSRD ITB.
Aku ingin, untuk pertama kalinya, mencoba mengambil jalanku sendiri.
Sedari kecil, aku sudah sering mendengarkan arahan dari orang-orang di sekitarku. Jalanku seperti sudah ditentukan dan aku dengan senang hati mengikutinya. Bahkan FSRD ITB sendiri pun bukan sepenuhnya jalan yang kupilih seorang diri. Di dalamnya, ada petunjuk dan arahan dari orang-orang yang kuhormati: guru-guru seni rupa semasa aku sekolah dan orang-orang keren yang kutemui di internet.
Sedari dulu, referensiku pada dunia ini memang sempit. Aku terbiasa fokus pada tujuan yang menjadi pilihan terbaik saat itu.
Alasan terkuatku untuk masuk jurusan seni adalah keinginan untuk fokus menekuni hal yang kusuka, membuka jalan baru yang kuputuskan sendiri, dan belajar berkomunikasi.
Masa Lalu dan Masa Depan
Saat itu, di bawah rimbun pohon, aku melihat lapangan olahraga luas dari depan kelas kami, Akselerasi 8-9 yang terletak di lantai 2. Angin bergerak semilir, menerbangkan dedaunan pohon yang berada tepat di depan kelas kami itu. Tepat di sebelah kelas, terdapat sebuah bilik kecil, tempat kantor wali kelas kami, Bu Bening.
Di balik kaca ruang kelas, dekat dengan koridor, tergantung pohon-pohon impian. Di kertas penuh warna yang telah dilaminasi plastik itu, terdapat banyak mimpi kami di masa depan: tentang jadi apa kita nanti, apa yang akan dilakukan, dan bagaimana cara melakukannya.
Saat itu, SMP 1 dipimpin oleh salah satu orang paling revolusioner yang pernah kutemui, Pak Margono. Kumis tebal dan perawakan beliau yang tidak terlalu jakun masih menempel di kepalaku, begitu pun dengan pendidikan karakter dan cara belajar yang beliau perkenalkan pada kami.
Di usia yang masih belia, kami sudah diajarkan untuk mengetahui tujuan hidup kami.
Salah satu hal aneh yang dulu sering kupertanyakan adalah, menemukan jawaban dari pertanyaan kita sendiri.
Aku merupakan salah satu anak yang sering mengganti cita-citanya: dari guru, peneliti, penulis, pelukis, ahli statistika, dan lain-lain. Bu Bening sering menanyaiku tentang, pada akhirnya, ingin jadi apa aku di masa depan? Aku hanya terkekeh.
"Ini Saskia, dia anaknya pintar gambar Pak," kata beliau suatu ketika pada salah seorang guru komputerku, Pak Udin.
"Aku yakin, kamu bakal jadi ilustrator yang hebat. Nomor satu di Indonesia!," kata Rizky, temanku yang giat membantuku tiap kali ujian matematika berlangsung. Dia mengatakannya, di depan aula SMP kami sebelum acara penyuluhan berlangsung.
Jujur, aku tidak tahu bagaimana harus merespon mereka.
Di kala luang, ketika sekolah berakhir lebih awal dan jemputan, Om Mustofa, belum datang, aku kerap memandangi langit biru dari jalanan koridor lantai dua dekat kelasku. Sendirian, memandangi awan yang berarak, ditemani angin semilir. Waktu berlalu begitu saja ketika awan berarak berubah dengan cepat.
Masa sekolahku dipenuhi dengan kebengongan: pencarian jati diri yang berjalan lamban dan penuh ketidakpastian masa depan.
24 tahun, 10 dekade dari hari itu, meski dengan wujud yang tidak se-ideal yang diharap, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku sebagai sarjana Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung.
Aku menyelesaikan pendidikanku di Oktober 2021, 2 bulan setelah Ayah mendahului kami semua. Saat wisuda kelulusan berlangsung, mataku masih sembab, bengkak. Wisuda dilakukan secara daring, aku dan Mama ditemani keluarga sepupu kami, Kak Irul untuk merayakannya di Bandung. Mukaku di foto terlihat acak-acakan, hasil depresi panjang selama masa kuliah, begadang, dan tangis terus-menerus yang tak terhitung.
Setidaknya, satu fase hidupku berhasil dilalui. Meski dengan IPK seadanya dan kelulusan yang terasa sepi karena tanpa kehadiran Papa, aku bersyukur bisa bertahan dan melanjutkan hidupku yang masih terasa berat saat itu.
Jiwaku hampir mati, ketika mendapati ayahku tidak akan bersama untuk seterusnya. Covid juga sempat membuatku mati rasa: indera penciuman dan pengecapku tidak bisa bekerja, sendi-sendiku terasa sakit, demam tinggi, aku hanya bisa berbaring di kala tugas akhirku menunggu untuk diselesaikan. Juga, berbagai persoalan hidup yang tidak terduga.
Seketika, mimpi dan gairahku hilang.
Aku ingin hidup biasa-biasa saja.
Asalkan tetap hidup, bertahan sudah pencapaian besar.
Tahun 2021 terasa amat berat, memang. Tapi, Tuhan tidak akan menguji lebih dari yang kita mampu bukan?
Buktinya, aku masih bertahan.
Desember 2021, Tuhan mempertemukanku dengan wanita baik yang mulai merubah hidupku, perlahan. Mega Jasmine, gadis asal Bandung yang teleponnya sering kuabaikan karena ketidakmampuanku untuk berkomunikasi dan keengganananku untuk percaya pada orang lain saat itu. Badai di awal tahun 2020 menyisakan banyak trauma padaku, terlebih untuk percaya pada manusia.
Aku saat itu sempat menyesal memillih jalanku sendiri.
Jikalau aku memilih jalan yang sudah ditentukan, yang sudah dipilihkan Papa.
Papa lebih tahu tentang bakatku bukan?
Menjadi seorang mahasiswa medioker di ITB dengan pencapaian yang tak seberapa, membuatku sempat minder.
Membandingkan diri dengan orang lain memang bukan hal yang bijaksana: kita berasal dari latar belakang yang berbeda, waktu yang diinvestasikan untuk menekuni dunia yang kita pilih pun beragam, lintasan pacu kita mungkin juga berbeda, tujuan tiap orang tak selalu sama, maka komparasi yang dilakukan pun sebenarnya tidak valid dan tidak adil untuk kita, maupun mereka.
Namun, bertemu dengan Jasmine, salah satu orang paling gigih yang kutemui, membuat sudut pandangku mulai melihat ke arah yang berlawanan. Dia sangat ingin masuk FSRD ITB, tapi takdir justru berbeda dan mempertemukan kami di Malang.
Daripada belajar animasi, aku lebih banyak belajar soal kehidupan saat itu.
Aku percaya, salah satu cara Tuhan membantu, adalah dengan mempertemukan hambanya dengan orang-orang baik yang dia percayakan.
Tiga tahun dari pertemuanku dengan Jasmine, aku menghidupi mimpi random yang kubuat usai sempat mengalami mati rasa: menjadi pengangguran sukses.
Freelance, tinggal di rumah membersamai Mama dan adik laki-lakiku.
Meski sederhana, tapi kurasa mimpi masa kecilku sebagai ilustrator dan animator internasional berhasil kuraih. Melalui platform digital, aku mengais rezeki Tuhan yang dari mana saja asalnya itu.
Di awal, aku sangat susah untuk menyeimbangkan antara kewajiban mengurus rumah dan bekerja. Aku sempat menjadi pekerja remote di studio salah satu kenalan sekaligus mentorku, tapi kemudian berhenti dengan persetujuan kedua belah pihak usai 2 bulan bersama. Performaku sebelumnya memang sangat lambat untuk ukuran industri.
Dari uang gaji yang kudapat di 2 bulan itu, untuk meningkatkan kecepatan kerjaku, aku membeli Display Tablet yang pernah kumimpikan. Dari situ, Allah mengizinkanku menghidupi diri sendiri dari mengerjakan commission art yang kudapat secara online.
Hidupku membaik, tapi luka dan traumaku belum sepenuhnya sembuh.
Termasuk androphobia, ketakutanku pada laki-laki.
Obat
Hubungan romantisku dengan laki-laki saat itu adalah hal yang sepertinya tidak akan terjadi sama sekali.
Ketertarikanku pada laki-laki secara alamiah ada. Kecenderunganku pada mereka, keinginan untuk suatu saat menemukan cinta: menyukai dan disukai.
Tapi, itu hal yang susah. Kisah cintaku tidak pernah berjalan mulus sebelumnya.
Nice try.
Aku menyukai, tapi tidak disukai. Aku disukai, tapi terlalu takut untuk balik menyukai.
Aku hampir selalu merasa, orang menyukaiku karena melihat sisi yang ingin mereka lihat, sisi yang sengaja kutampilkan untuk mendekati mereka.
Aku takut, seperti orang-orang yang pernah kutemui dalam perjalanan hidupku, cinta justru akan berbalik mengkhianatiku.
Laki-laki bukan makhluk yang setia, dari sudut pandangku.
Meski aku bisa memaklumi hal itu sebagai kebenaran dan responded psikologis, juga kebenaran sosial yang menjadi maklum, sudut hatiku yang terdalam masih belum bisa menerimanya.
Perasaan takut untuk dikhianati masih menghantui. Rasionalitasku bisa untuk memaklumi, tapi hati kecilku masih merintih, menginginkan keadilan, masih berharap akan idealisme autentik yang ingin kutemui di dunia fana ini.
Ketika aku memutuskan untuk tidak menikah dan tidak akan menyenangkan pria selain ayahku, Tuhan berkehendak lain:
Allah mengambil satu-satunya pria yang kusayang.
Dan mempertemukanku dengan satu pria yang akan kupilih.
Entah bagaimana caranya, cara yang diberikan Allah selalu ajaib. Penuh dengan kebetulan tak terduga.
Aku percaya, salah satu cara Tuhan membantu, adalah dengan mempertemukan hambanya dengan orang-orang baik yang dia percayakan.
. . . dan kisah ini masih berjalan, entah bagaimana kelanjutan dari setiap titik dan koma yang ada.
Kelanjutannya akan kuceritakan di tulisan lain, insyaAllah.
Comments
Post a Comment